Tuesday, July 11, 2017

Divisi Aftermarket ZF Grup Resmi Beroperasi di Indonesia


11 / 07 / 2017 - IN NEWS
Editor: Antonius
Foto: Anton
Ilustrasi: ZF



Pemasok komponen driveline dan sasis kendaraan terkemuka dunia, ZF Friedrichshafen AG atau lebih dikenal dengan brand ZF, menganggap pasar otomotif Indonesia sangat menjanjikan. Tak pelak jika Divisi aftermarket ZF Grup melakukan investasi di Indonesia lantaran melihat Indonesia sebagai fokus pasar di Asia Pasifik.

Maka efektif per Maret 2017 lalu, Divisi aftermarket ZF Grup meresmikan entitas hukum yang baru dengan nama PT ZFAG Aftermarket Jakarta, dengan tujuan agar dapat memberikan pelayanan lebih baik serta menjamin ketersediaan produk lebih cepat bagi konsumen dan mitra bisnisnya di Indonesia.

Sejak memulai operasinya di Indonesia pada 2001 lalu, ZF masih berstatus sebagai official representative atau perwakilan resmi dari Divisi aftermarket ZF Grup. Menurut Direktur PT ZFAG Aftermarket Jakarta, Cakra Wiyata, banyak keterbatasan saat itu karena tidak dapat memaksimalkan seluruh layanannya kepada pelanggan ZF di Indonesia, sesuai aturan yang berlaku sebagai official representative.

“Dan sekarang dengan entitas yang baru ini, kami berkomitmen untuk terus-menerus menyempurnakan diri agar dapat memuaskan pelanggan lebih baik lagi. Selain itu, kami berusaha untuk memperkuat layanan dan memperluas jaringan distribusi di Indonesia sebagai persiapan dalam menghadapi kebutuhan pasar lokal dan menyediakan portofolio produk yang lebih lengkap. Saya yakin, hal ini dapat membuat ZF Indonesia unggul di segmen aftermarket,” kata Cakra di acara launching PT ZFAG Aftermarket Jakarta, Ritz Carlton Pacific Place, Jakarta, Selasa (11/Juli).


 Cakra Wiyata, Direktur PT ZFAG Aftermarket Jakarta

Divisi aftermarket ZF Grup yang menggawangi merek ZF, SACHS, LEMFĂ–RDER, TRW, BOGE, dan OPENMATICS ini sejatinya telah berkontribusi dalam memajukan industri kendaraan komersial di Indonesia khususnya pada armada bus rapid transit yang kini mulai berkembang pesat.

Melalui strategi baru yang diusungnya dengan memperkuat layanan dan memperluas jaringan distribusi di Indonesia, ZF juga membidik industri pertambangan dan konstruksi termasuk menyediakan komponen original equipment manufacturers (OEM).

Sejauh ini, ZF telah berpartner dengan beberapa agen pemegang merek (APM) dan distributor resmi kendaraan komersial di Indonesia. Seperti PT Alun selaku distributor resmi truk Renault dan truk Mercedes-Benz, PT Chakra Jawara sebagai APM truk Iveco, dan PT Hino Motors Sales Indonesia selaku APM truk Hino di Tanah air.


https://www.truckmagz.com/divisi-aftermarket-zf-grup-resmi-beroperasi-di-indonesia/

PT ZFAG Aftermarket Siap Ramaikan Pasar Otomotif Tanah Air





PT ZFAG Aftermarket Jakarta selaku distributor resmi spare parts serta Original Equipment Manufacturers (OEM) untuk beberapa kendaraan resmi memasuki pasar otomotif Indonesia.

Perusahaaan yang bermarkas di Selatan Jerman ini telah sukses menjamin kebutuhan para pelanggannya. PT ZFAG Aftermarket siap ramaikan pasar otomotif Tanah Air.

Direktur PT ZFAG Aftermarket Jakarta, Cakra Wiyata mengungkapkan, "Kami berdiri sejak 2001 dan kami menyediakan transmisi untuk mobil-mobil besar. Fokus kami adalah konsumen dengan tujuan untuk selalu menghadirkan produk berkualitas dan peningkatan layanan."

"Kami berfokus di teknologi dan inovasi sebagai trend setter di produk dengan teknologi terkini. Hal ini dilakukan agar lebih efisien dengan produk yang premium dengan lifetime yang lebih panjang," ujar Cakra.

ZFAG Aftermarket juga berfokus pada kaki-kaki mobil dan drivetrain kendaraan besar, seperti bus dalam kota hingga truk tambang. "Selain bermain di drivetrain kami juga bermain untuk sasis kendaraan. Bahkan, kami juga provide untuk fasilitas marine, dan juga helikopter," kata Cakra lagi.

http://www.gemarakyat.id/pt-zfag-aftermarket-siap-ramaikan-pasar-otomotif-tanah-air/
http://corong.id/otomotif/pt-zfag-aftermarket-siap-ramaikan-pasar-otomotif-tanah-air/

Perkuat Distribusi, ZF Resmikan PT ZFAG Aftermarket Jakarta

Oleh Zenuar Yoga 11 Juli 2017



Demi memperkuat distribusi dan jaringan pelayanan, ZF Aftermarket meresmikan PT ZFAG Aftermarket Jakarta. Tujuan dibukanya PT ZFAG Aftermarket Jakarta antara lain agar dapat memberikan pelayanan lebih baik, rangkaian produk lebih luas, serta ketersediaan produk lebih cepat bagi konsumen dan juga mitra bisnis.

Menurut ZF Aftermarket melalui Cakra Wiyata, Direktur PT ZFAG Aftermarket Jakarta, Indonesia adalah salah satu market terbesar untuk berinvestasi. "Kami berusaha untuk memperkuat layanan dan memperluas jaringan distribusi di Indonesia sebagai persiapan dalam menghadapi kebutuhan pasar lokal dan menyediakan portofolio produk yang lebih lengkap. Saya yakin, hal ini dapat membuat ZF Indonesia unggul di Aftermarket," jelasnya di Jakarta, Selasa (11/7).

Selain itu Cakra juga mengatakan pihaknya yakin produknya diterima oleh konsumen Indonesia. "Produk ZF telah terbukti kesuksesannya secara global, hal ini memberikan kesempatan untuk memperkenalkan produk-produk unggulan kami secara lebih luas di Indonesia," lanjutnya.

ZF sendiri merupakan pemasok otomotif global untuk teknologi driveline dan chassis, serta teknologi pengamanan aktif dan pasif. Tidak hanya di bidang otomotif, ZF juga memberikan solusi di industri kelautan Indonesia dan berdedikasi untuk mengembangkan pasarnya secara khusus di segmen komersial dan fast craft.


http://www.autocarindonesia.com/auto-news/perkuat-distribusi-zf-resmikan-pt-zfag-aftermarket-jakarta-438015.aspx?utm_source=feed&utm_medium=rss&utm_campaign=Autocar+Indonesia+All+Articles+feed+

ZF Aftermarket Semakin Dekat ke Produsen Otomotif di Indonesia

Hanggi Martyas Laksono | 12-Jul-2017


JAKARTA (DP) – Pemasok produk after market asal Jerman, Zahnradfabrik Friedrichsafen (ZF) Aftermarket, mulai membidik serius pasar otomotif di Indonesia. Hal itu dibuktikan dengan diresmikannya PT ZFAG Aftermarket Jakarta, Selasa (11/7), di Jakarta Pusat.

Kehadiran PT ZFAG Aftermarket Jakarta, selain akan memperkuat layanan dan pengembangan jaringan distribusi di Indonesia. Juga membantu pabrikan mobil untuk mendapatkan produk after market ZF bisa lebih cepat, yang sesuai dengan kebutuhannya.

Menurut Cakra Wiyata, Direktur PT ZFAG Aftermarket Jakarta, jika dahulu APM yang membutuhkan suku cadang ZF, mereka harus mendatangkan langsung dari Jerman atau Singapura dengan jumlah tertentu, hal tersebut tentu memerlukan proses yang cukup panjang.

“Sekarang kami sebagai distributor resminya, jadi seberapa pun jumlah part yang dibutuhkan kami sediakan. Maka pabrikan mobil yang agen pemegang mereknya ada di sini sudah tidak repot,” tambahnya.

Tak hanya menyediakan layanan penyedia part aftermarket saja, jika ada APM yang mau mengembangkan suatu teknologi, PT ZFAG Aftermarket Jakarta ini juga bisa sebagai suplai komponennya.

“Seperti transmisi, misalnya ada suatu merek mobil ingin mengembangkan teknologi transmisi, maka nanti tim R&D kami duduk bareng, diskusi dengan pabrikan tersebut untuk mengembangkan part tersebut, nah kami jadi OEM (Original Equipment Manufactur) suplainya,” beber Cakra.

Selain itu, lebih lanjut Cakra menambahkan, ZFAG Aftermarket juga menyediakan jasa servis dan training produk. Misalnya di kawasan Kalimantan ada perusahaan yang memakai truk multi merek, ZFAG Aftermarket Jakarta akan menyediakan teknisi untuk layanan servis jika truk-truk tersebut memakai produk ZF.

“Kami juga memberikan jasa service dan training produk kepada APM, atau diler-diler yang ditunjuk. Seperti Hino misalnya, menunjuk sebuah diler untuk kami training mekaniknya mengenai produk kami, maka kami akan berikan jasa tersebut,” terang Cakra. [dp/Hml]

https://dapurpacu.com/345541/zf-aftermarket-semakin-dekat-ke-produsen-otomotif-di-indonesia/?utm_source=tag-box



ZFAG Asal Jerman ‘Serbu’ Indonesia

ZFAG Asal Jerman ‘Serbu’ Indonesia





JAKARTA (DP) — Seksinya bisnis otomotif di Indonesia, membuat ZF Aftermarket asal Jerman resmi melebarkan jaringannya di Jakarta, Indonesia.

ZF Aftermarket melihat Indonesia sebagai fokus pasar di Asia Pasifik dan berinvestasi di Indonesia, untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang semakin meningkat.

Sehingga di Tanah Air, bisnis pemasok part otomotif untuk teknologi driveline dan chasis serta teknologi pengamanan aktif dan pasif nantinya dikelola oleh PT ZFAG Aftermarket Jakarta.
Efektif per Maret 2017, entitas hukum PT ZFAG Aftermarket Jakarta telah ditetapkan dengan tujuan agar dapat memberikan pelayanan lebih baik, rangkaian produk lebih luas dan ketersediaan produk lebih cepat bagi konsumen dan juga mitra bisnis.

“Kami juga berkomitmen  untuk terus menerus menyempurnakan diri agar dapat memuaskan pelanggan lebih baik lagi,” ujar Direktur PT ZFAG Aftermarket Jakarta, Cakra Wiyata, di Jakarta, Selasa (11/7/2017).
Selain di Jakarta, PT ZFAG Aftermarket juga punya semacam kantor cabang di Balikpapan, Kalimantan Timur.

“Banyak konsumen kami yang juga tersebar di luar pulau Jawa, makanya kami membuka kantor cabang di Kalimantan agar bisa lebih memuaskan konsumen,” terangnya. [dp/Hml]

https://dapurpacu.com/345481/zfag-asal-jerman-serbu-indonesia/?utm_source=tag-box

Monday, February 27, 2017

Paguyuban Asta Jaya Wadahi Pencinta dan Pedagang Keris


jaknewsonline.com — Foto : Ketua Paguyuban Asta Jaya, Cakra Wiyata


JAKARTA - Memperkenalkan dan memberi pemahaman keris kepada masyarakat secara luas masih terus dilakukan oleh para pencinta keris, termasuk yang berada dalam wadah Paguyuban Ajang Silaturahmi Tosan Aji Jakarta Raya (ASTA JAYA).

Ketua Paguyuban ASTA JAYA, Cakra Wiyata yang ditemui awak media usai dirinya terpilih menjadi Ketua Paguyuban mengatakan, Indonesia memiliki corak keris yang berbeda dengan negara lain. Hal ini karena Indonesia memiliki budaya sendiri dan yang berbeda dengan budaya negara lain. Apalagi sejak 2005 pengkerisan Indonesia sudah diakui sebagai World Heritage oleh Unesco.

"Jadi, kewajiban kami adalah memberikan beberapa edukasi maupun workshop bagi masyarakat maupun pencinta benda pusaka, agar lebih positif lagi menerima pemikiran tentang keris serta bagaimana meramaikan pasar keris di Rawa Bening dan juga bagaimana meramaikan museum pusaka ," ujarnya, Sabtu (18/2/17) di Museum Pusaka, TMII, Jakarta.

Dikesempatan ini juga katanya, Asta Jaya melakukan workshop dan seputar benda pusaka khususnya keris dalam rangka mengembangkan dan komunikasikan kepada khalayak umum yang awam dengan keris serta memberikan informasi dengan benar.

Lebih lanjut kata Cakra, pencinta dan komunitas-komunitas keris selain yang berasal dari Jakarta, ada juga dari beberapa daerah di Indonesia. "Kami juga berharap dengan adanya paguyuban ini, kami akan konsentrasi di bidang pelestarian seperti mengangkat nilai-nilai keris baik secara bendawi (fisik) maupun non bendawi, filosofi dari keris tersebut. Lain hal pada pengembangan, yakni dititik beratkan bagaimana mengubah persepsi masyarakat yang beranggapan kurang positif terhadap keris," paparnya. 

Selain itu yang terpenting bagi pencinta keris, baik sebagai pedagang kedepan pastinya pihak Asta Jaya akan berusaha menyamakan persepsi dalam menentukan harga, agar supaya tidak terjadi persaingan dalam harga. Apalagi dalam paguyuban ini sudah tergabung dari pedagang maupun komunitas dari yang baru maupun yang lama. Dan saat ini mereka yang sudah bergabung sekitar 50 orang yang berasal dari Jabodetabek, Indramayu 

Saat disinggung harga keris tersebut, Cakra menjelaskan bahwa harga sangat beragam, ada yang lama maupun yang baru dengan kisaran harga ada yang Rp100 ribu bahkan mencapai Rp 100 juta.

Penulis : Redaksi
Editor : Redaksi



http://jaknewsonline.com/new/news-2134-paguyuban-asta-jaya-wadahi-pencinta-dan-pedagang-keris.html

http://www.lensajabar.co.id/2017/02/19/asta-jaya-siap-fasilitasi-pencinta-dan-pedagang-keris/


Monday, January 23, 2017

Kris lovers seek a way to penetrate generation Z


ART & CULTURE
Kris lovers seek a way to penetrate generation Z
A. Kurniawan Ulung
A. KURNIAWAN ULUNG
THE JAKARTA POST
Jakarta | Tue, January 24, 2017 | 08:46 am



Illustration of traditional Javanese kris. (Shutterstock/File)
Raised in a Javanese family that upheld culture and tradition in Yogyakarta, businessman Cakra Wiyata grew up understanding the grandeur of kris. He has a collection of around 100 kris at home.
His children, aged 16 and 14, initially did not show particular interest in his collection. They would express their boredom when he started talking about kris. However, one day when he showed them a new rare addition to his collection, they immediately took a selfie with the kris and proudly posted it on their Instagram accounts.
“They wrote, ‘Hey, I am just holding a kris from the Singosari kingdom,’” Cakra said in a recent discussion at Pusaka Museum at the Taman Mini Indonesia Indah (TMII) cultural park in East Jakarta.
His children’s spontaneous action on social media made him realize that kris, named a Masterpiece of the Oral and Intangible Heritage of Humanity by the United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO) on Nov. 25, 2005, could become more popular in the era of Generation Z, a label given to those born after 1995 and deemed hyper-connected.
Known as “digital natives”, members of Generation Z generally don’t know what it’s like to not have a cell phone attached to their hands. Its members are concerned with how many “likes” they get on Facebook or how many followers they have.
“It is not about young people who care about culture. But, it is about cultural observers who care about young people,” Cakra said of Generation Z.
(Read also: Video: T. Kardin Indonesian knives: equaling quality with the world's knife company)
For Generation Z, the internet is a need and most of its members access the internet through mobile devices such as smartphones and tablets.
For Cakra, approaching the members of Generation Z matters so they learn about kris. He once conducted a small survey to know about the impression of young people on kris. Cakra found that 79 percent of his respondents were not aware that kris had been recognized by UNESCO, while 65 percent were not interested in possessing the dagger.
“When I asked their reason, 32 percent answered, syirik [the sin of practicing polytheism in Islam],” he said, laughing.
He believed that the word syirik popped up in the minds of respondents because they were influenced by TV shows that often associated shamans with daggers, incense and offerings.
Cakra has been in love with kris since his days as a young athlete.
“In the past, I had 200 to 300 kris. But, I sold and gave [some of them] to my friends.”
He recalled that he gave each of his children kris to mark their transition to adulthood. He hopes the daggers remind them of him and encourage them in hard times. “Kris is not just a gift, it has a meaning. Someday they will see it as an heirloom. After I die, it will be a reminder [of me],” he said.
Another kris collector, Unggul Sudrajat, has introduced his collections to his two sons, aged 3 and 4, because he wants them to understand its historical and cultural values.
(Read also: Graceful dance recital highlights unity in diversity)
The owner of at least 150 kris also wants to counter people’s perception that the traditional dagger is associated with mystical things.
“I want to start in my family first,” said the 29-year-old.
He has involved his sons in the maintenance of kris by teaching them how to carefully hold and release them from their scabbard.
“In the future, I will teach them to understand the pola pamor [pattern] and typology of their shapes,” he said.
Unggul has been collecting kris since 2010 after meeting kris maestro Haryono Haryoguritno, late president Sukarno’s aide who stood on the front lines of convincing UNESCO to recognize kris as world heritage in 2005. He spent one-and-a-half years learning about kris from Haryono, author of the book Keris Jawa, Antara Mistik dan Nalar (Javanese Kris, Between Mystical and Logic).
Unggul tries to promote kris worldwide — simply by posting photographs of his collections on Instagram, Twitter and Facebook.
“We are cultural diplomats, — young people who care about culture. I always include the hashtag #krisindonesia to make it easier for people to find information about kris,” he said. Using social media to interact with young people has proven effective because many youngsters from various cities, ranging from Bondowoso in East Java, Pontianak in West Kalimantan to Makassar in South Sulawesi, have contacted him to learn about kris. “They often say, ‘At home, I also have kris, which is the legacy of my parents. It is in my cupboard. But I never open it because I am afraid. What should I do?’” he recalled. Directed to the right people, such questions will lead to an eye-opening discussion that can change the youngsters’ perception on kris.



http://www.thejakartapost.com/life/2017/01/24/kris-lovers-seek-a-way-to-penetrate-generation-z.html