Labels

Showing posts with label renungan. Show all posts
Showing posts with label renungan. Show all posts

Tuesday, August 7, 2018

Tentram

Senin lalu dibulan Agustus 2018 sehabis subuh.
Saya ngobrol dengan Kang Prie GS, guru dan sahabat virtual saya dalam sesi kuliah paginya melalui live chat yang sedang dia gandrungi akhir akhir ini.

Sepotong kata dalam doanya yang menempel di saya. Ya Allah karuniailah aku dengan rasa syukur atas segala kenikmatan Mu, Tentramkanlah hidupku. Jangan jadikan segala rejeki dan kenikmatanMu membuatku kehilangan rasa "Tentram" ini.



Wiih… Tentram ini menjadi kalimat baru dalam doaku. Betapa tidak, ternyata semua yang kita kejar ujung ujungnya adalah rasa Tentram.
Disaat kita tidak tentram, seberapapun harta yang kita miliki, maka kita akan tetap beringas untuk melakukan segala cara untuk mendapatkan bagian lebih dari yang lain, mengeruk sedalam dalamnya apa yang bisa kita keruk, serta tak tenang jika pundi pundi kita terasa tak cukup.

Disaat uang kita cukup, biasanya akan ada ketenangan hati akan segala kemungkinan kejutan kebutuhan yang akan mengusik ketentraman kita.
Oleh karena itu, tak salah jika goal utama nya adalah "Tentram". Dengan demikian Tuhan akan mencukupkan kita dengan cadangan harta yang akan menentramkan sebagai efek samping doa tersebut. Atau kita juga akan berusaha menentramkan diri kita dan bersyukur dengan apapun yang kita punya.

Jadi, mari digali dan dikenali rasa "Tentram" ini.
Dimana mahluknya dan gimana cara meraihnya.
PR bersama.

Salam Tiwikrama

Perjalanan Singkat

Alkisah seorang 'Guru' bijaksana yang demikian terkenal dan kerap disambangi oleh berbondong orang dari pelosok negeri karena nasehat dan inspirasi yang diberikannya.

Pada suatu hari datanglah seorang sukses, kaya, dan sangat terkemuka menemui Guru tersebut.
Orang sukses ini memiliki hampir seluruh yang diinginkannya di dunia, kecuali sedikit relung kehampaan yang dirasakannya dewasa ini.

Setelah melalui berbagai usaha dan perjalanan berliku akhirnya duduklah dia di serambi rumah Sang Guru, menunggu beliau keluar dari biliknya.
Matanya menyapu seluruh ruang, memperhatikan setiap detil bertanya tanya dan mengagumi didalam hatinya. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu terkenal akan kebijaksanaannya se antero negeri dapat hidup demikian sederhana.

Hanya empat kursi sederhana beserta meja, dan beberapa dekorasi lama yang terlihat dalam ruang tamu dan dinding rumah itu. Sebuah ranjang kayu tua terliat dari balik pintu sebuah kamar beserta lemari yang tak pula terlihat berukir sempurna.
Walaupun jauh dari kesan mewah, namun semua perabot rumah tersusun pada tempatnya, tertata rapi, bersih, serasi dan membawa aura yang sangat terasa menenangkan hati.

Lirih hembusan nafas orang kaya ini disaat merasakan suasana damai menyambut Sang Guru keluar dari ruang belakang rumahnya.
Dengan pakaian serba putih dan raut wajah tenang beliau menyambut tamunya dengan penuh persahabatan. Beberapa saat berlalu dengan obrolan pembukaan ringan, si kaya ini mulai berwajah serius ingin mencurahkan isi hatinya.
Tak kuasa ia memulai dengan satu pertanyaan, " Guru, saya merasakan kedamaian di rumah ini. Saya sangat kagum dengan Guru. Bagaimana Guru mencapai kedamaian dan kebahagiaan yang bisa saya rasakan ini? mohon maaf, sepintas saya memperhatikan kediaman Guru tak satu saya temui sebuah TV modern, perangkat elektronik, susunan buku yang berjajar, ataupun sekedar perabotan dan dekorasi rumah yang indah. Bagaimana Guru mencapai kedamaian dan kebahagian dunia ini?".

Sang Guru tersenyum dan membuka bibirnya. Bukan jawaban yang diberikan, melainkan pertanyaan lain yang terucap. "Anak muda, engkau terlihat demikian cerdas, terpelajar, sukses, dan tentunya memiliki banyak kegemaran. Dimana barang barang kegemaranmu, aku tak melihatnya?".
Orang kaya ini menjawab tersipu, " Terima kasih Guru, Alhamdulilah saya mampu memiliki banyak hal yang saya gemari dan impikan sejak kecil. Tentunya barang barang tersebut saya tinggal di rumah Guru. karena ukurannya yang besar besar, mobil pun saya tinggal di kaki bukit. Tak satupun saya bawa serta Guru, Saya hanya sedang dalam sebuah 'Perjalanan Singkat' ".

Sang Guru tersenyum dan menjawab "Anak Muda, bukankah kita semua ini hidup dalam sebuah 'Perjalanan Singkat'? "

Orang kaya tersebut terdiam dengan mata berkaca kaca, mendapatkan seluruh pelajaran hanya dalam satu kalimat pertama.



Thursday, September 15, 2016

Rejeki iku ora iso ditiru

Falsafah by Ronggowarsito.

Bagi kita yang kerap kali Silau dengan keberhasilan teman atau orang lain.
Fokus pada segala kelebihan dan apa yang telah kita miliki. Jangan terobsesi dengan apa yang dimiliki orang lain, dan bersedih dikala kita merasa serba kekurangan. 

Ingat, banyak sekali orang lain yang masih ingin bertukar posisi dengan kita. Melihat kita jauh lebih beruntung dari mereka.


Rejeki iku ora iså ditiru….,
Senajan pådå lakumu,
Senajan pådå dodol anmu,
Senajan pådå nyambut gawemu.
Kasil sing ditåmpå bakal bedå2….,
Iså bedå nèng akèhé båndhå,
Iså ugå ånå nèng Råså lan Ayemé ati,
Yåaa iku sing jenengé bahagia….

Kabèh iku såkå tresnané Gusti kang måhå kuwåså…..,
Såpå temen bakal tinemu,
Såpå wani rekåså bakal nggayuh mulyå.
Dudu akèhé, nanging berkahé kang dadèkaké cukup lan nyukupi…..

Wis ginaris nèng takdiré menungså yèn åpå sing urip kuwi wis disangoni såkå sing kuwåså.
Dalan urip lan pangané wis cemepak cedhak kåyå angin sing disedhot bendinané….,
Nanging kadhang menungså sulap måtå lan peteng atiné, sing adoh såkå awaké katon padhang cemlorot ngawé-awé,
Nanging sing cedhak nèng ngarepé lan dadi tanggung jawabé disiå-siå kåyå orå duwé gunå.

Rejeki iku wis cemepak såkå Gusti, ora bakal kurang anané kanggo nyukupi butuhé menungså såkå lair tekané pati….,

Nanging yèn kanggo nuruti karep menungså sing ora ånå watesé, rasané kabèh cupet, nèng pikiran ruwet, lan atiné marahi bundhet.

Welingé wong tuwå, åpå sing ånå dilakoni lan åpå sing durung ånå åjå diarep-arep, semèlèhké atimu, yèn wis dadi duwèkmu bakal tinemu, yèn ora jatahmu, åpå maneh kok ngrebut såkå wong liyå nganggo cårå sing ålå, yå dientèni waé, iku bakal gawé uripmu lårå, rekåså lan angkårå murkå sak jeroning kaluwargå, kabeh iku bakal sirnå balik dadi sakmestiné.

Yèn umpåmå ayem iku mung biså dituku karo akèhé båndhå dahnå rekasané dadi wong sing ora duwé.

Untungé ayem isà diduwèni såpå waé sing gelem ngleremké atiné ing bab kadonyan, seneng tetulung marang liyan, lan pasrahké uripé marang GUSTI KANG MURBENG DUMADI…




terjemahan :

Rizki orang itu tidak akan sama
Walau sama perjuanganmu
Walau sama jualanmu
Walau sama jenis pekerjaanmu
Hasil yang diterima akan berbeda
Bisa berbeda dari banyaknya harta
Bisa juga berbeda dari kepuasan hati
yaitu yang namanya bahagia

Semua itu terjadi karena kasih Allah Yang Maha Kuasa
Siapa yang ikhtiar akan berhasil
Siapa yang berani hidup susah akan mendapat kemuliaan
Bukan besarnya hasil, tetapi berkah itulah yang akan membuat hidup itu berkecukupan

Sudah digariskan taqdir manusia yang dalam kehidupannya sudah dibekali oleh Allah Yang Maha Kuasa
Jalan kehidupan dan rizki sudah didekatkan, seperti dekatnya angin yang setiap hari kita hirup
Tapi kadang manusia terlena dan tertutup hatinya,
Yang jauh dari dirinya seperti sangat menggoda
tapi yang dekat di depan mata dan jadi tanggungjawabnya malah disia-siakan seperti tiada berguna

Rizki itu sudah didekatkan oleh Allah, tidak akan kurang untuk mencukupi manusia dari lahir sampai mati

Tetapi jika rizki itu untuk menuruti hawa nafsu manusia yang tiada batasnya, maka semua terasa buntu, pikiran jadi stress, dan hati menjadi putus asa

Ingatlah orang tua, apa yang ada dijalani, apa yang tidak ada jangan terlalu diharapkan, pasrahkan hatimu, jika sudah menjadi milikmu akan bertemu, jika bukan hakmu, apalagi dengan merebut dari orang lain memakai cara yang jahat, maka tunggu saja, itu akan membuat hidupmu sakit, susah dan jadi angkara murka dalam keluarga. Semua akan kembali seperti ketentuan-Nya.

Seandainya bahagia itu bisa dibeli dengan banyaknya harta, maka kesusahan pasti milik orang yang tidak punya.

Untungnya bahagia itu bisa dimiliki siapa saja yang mau menentramkan batinnya dalam urusan dunia, suka menolong terhadap sesama dan pasrah hidupnya pada Allah Yang Maha Kuasa atas segalanya.


Tuesday, June 21, 2016

Debat Kusir

"Jika kamu ingin berdebat dengan orang bodoh, maka kamu harus menurunkan tingkat kecerdasan kamu beberapa level, agar perdebatan tersebut menjadi sepadan. Namun jangan sekali kali kamu berpikir dapat memenangkan perdebatan tersebut, karena dia telah lama berpengalaman di posisinya".

Haha.. statement menggelitik dari Cak Nun yang kukutip diatas sebetulnya bukan lelucon semata. Semakin kurenungkan dalam-dalam, semakin ku menyadari betapa sering tak kuasanya kita menahan ego untuk membalas statement dan komentar 'bodoh' yang marak di media sosial, bahkan di whatsap grup teman lama kita.
Ada saja si 'pintar' yang berkoar koar bak pengamat politik atau ahli agama karbitan.  Tak sedikit pula yang hanya sekedar copy paste biar terlihat 'eksis'.

Ada perdebatan produktif, tapi tak sedikit pula yang mutar-muter menjadi perdebatan kusir tak berpangkal ujung. Kenapa lagi nih pak kusir yang gak tau apa-apa jadi korban. Maaf ya pak..
Tapi, benar juga sih istilah diatas. Dengan menanggapi debat panjang yang tak tau rimbanya, serta menanggapi ocehan pedas bagai pecut cemeti, tak sengaja moncong kita memancung dan  kuping kita memanjang bagaikan keledai pak kusir yang terikat hidung dan tertutup matanya.
Debat Produktif memerlukan tingkat intelegensia dan kematangan emosi yang berbeda. Dibutuhkan akrobat perspektif untuk melihat suatu masalah serta sudut pandang yang terbalik dalam menguji dan menantang lawan bicara.
Lawan dalam sebuah perdebatan, sejatinya merupakan sahabat dalam berdiskusi dan bertukar pikiran.
Disaat argumen tak lagi dapat dipatahkan, kepuasan tak terkira bagi kedua pihak untuk mencapai suatu kesepakatan baru yang memperkaya wawasan.

Masihkah anda terpancing menanggapi hujan statement yang memerahkan telinga dan memompa adrenalin dari para pahlawan dadakan tersebut?
Baiknya dicerna dan dicermati di posisi mana dia berdiri. Si Kusir, atau si Kaya teman berbagi fikir dan rasa.  Tahan deh... mending senyum dan tertawa saja.



Tuesday, October 20, 2015

Kelas Inspirasi, Gerakan Indonesia Mengajar

Terinspirasi oleh suatu gerakan yang diinisiasi oleh Anies Baswedan bernama Gerakan Indonesia Mengajar. Saya pun tergerak untuk mengetahui lebih dalam akan semangat yang terbakar didalamnya.

Bagaimana tidak. Puluhan pemuda pemudi, bahkan ratusan orang pada perkembangannya. Tergerak serentak oleh suatu komando di dalam diri masing masing demi satu tujuan, 'Berbuat Sesuatu' Untuk Indonesia.
"Memenuhi Janji Kemerdekaan", demikian kalimat Anies yang demikian menggugah dan bergaung di telinga para pemuda pemudi itu. Janji untuk mencerdaskan kehidupan bangsa, seperti yang dituliskan oleh para pendiri bangsa yang besar ini.

Membaca dan mengikuti perkembangannya, saya tertarik pada suatu program bernama "Kelas Inspirasi". Suatu program yang tak didesain bagi pengajar muda untuk ber 'Jibaku' selama setahun di pedalaman. Namun dapat diikuti oleh siapa saja, tanpa batasan sosial maupun profesi.
Tujuannya sederhana. Memperkenalkan Profesi mereka pada anak anak yang duduk di Sekolah Dasar, memberi gambaran akan masa depan sebagai hasil dari apa yang mereka perjuangkan sehari hari di bangku sekolah.

Berduyun duyun para profesional yang memiliki semangat  dan keperdulian serupa ikut ambil bagian didalamnya, tak terkecuali saya. Tak mau nyemplung sendirian, sang istri pun saya ajak serta.
Beberapa briefing dan pertemuan kelompok kami hadiri.
Bergabung dengan rekan rekan yang relatif jauh lebih muda, membuat saya sedikit canggung pada awalnya.
Semangat mengebu gebu, pemikiran idealis, berbagai ide kreatif tercurah bagaikan tak terhenti. Bangga juga saya melihat sisi lain pemuda Indonesia yang terkadang tertutup oleh para pencari jalan singkat, dan berat kaki untuk berjuang dalam memajukan negeri ini.

Singkat kata, Hari Inspirasi pun tiba. Lokasi sekolah tempat saya dan istri bertugas sengaja kami pisah, agar kami dapat merasakan dan berbagi pengalaman yang berbeda.
Saya sendiri kebagian di SDN 05 Pagi Tegal Parang, sedangkan Istri di SDN 18 Pagi Kramat Jati.

Berbagi tentang profesi itu perkara mudah. Bagaimana menyampaikannya kepada anak berumur 6 sampai 12 tahun, itu yang tak terbayangkan. Materi dapat disiapkan, bagaimana merubah pesan itu menjadi suatu Inspirasi bagi mereka, itu yang menjadi tantangan.
Alhasil berbagai permainan, nyanyian, contoh kasus, tanya jawab, serta materi pesan yang menarik, membuat kegiatan ini menjadi sungguh menyenangkan.
Alih alih memberi Inspirasi pada mereka, tak banyak dari kami yang justru terinspirasi akan berbagai latar belakang sosial serta respon yang mereka lontarkan.

Ingin menjadi Pilot, Ingin menjadi Astronot, Guru, Abri, dll. selalu terdengar dalam kelas yang kami masuki. Namun tak sedikit juga cita-cita sederhana yang membuat hati kami terhenyak. Saya ingin menjadi penjaga palang pintu kereta, saya ingin mengumpulkan barang bekas, penjaga apartemen, pedagang bakso, dan lain sebagainya.

Menyadari berbagai macam celah perbaikan yang dapat kita lakukan sebagai warga negara yang mengakui menyintai negeri ini. Kegiatan kegiatan seperti ini sungguh membuka mata.
Ternyata tak seluruhnya harus berupa uang dan buku sumbangan. Kehadiran anda disana merupakan "Iuran Terbesar" anda dalam memenuhi "Janji Kemerdekaan".   Haha.. I more and more sound like Mr. Anies Baswedan.
Tapi benar itu adanya. Bagai baru saja menunaikan suatu ibadah. Betapa kecil usaha kita dalam mencoba memajukan pendidikan di negeri ini, demikian tak ternilai kebahagiaan yang kita dapatkan darinya.

Pantau kegiatan Kelas Inspirasi dan Kegiatan Indonesia Mengajar di kota anda.

Salam Kecerdasan Bangsa

 Briefing dengan Guru di SDN05 Tegal Parang


Mengajar dan bermain di kelas

 Memperkenalkan Profesi Make Up Artist


 Tim KI Kramat Jati

 Merasakan Kembali Upacara Bendera
 Tim KI Tegal Parang





Friday, October 16, 2015

Napak Tilas


Ayah saya sering sekali menceritakan kisah hidup dan perjalanan karirnya dimasa muda.
Banyak sekali pengalaman dan pelajaran berharga yang ia dapat dan ingin dibagikan kepada kami anak dan cucunya.

Dari sekedar menanggapi bak mendengar dongeng kisah perjuangan, perlahan lahan ketertarikan kami meningkat ke level lebih lanjut.  Karena banyak hal yang beliau utarakan satu persatu kami temui dalam perjalanan hidup kami.

Tak puas hanya berbagi tawa dan bercerita, di tahun tahun belakangan ini Ayah bersemangat sekali untuk kembali menapaki tempat tempat nostalgia yang selama ini hanya beliau gambarkan. Kami pun mulai merencanakan perjalanan 'Napak Tilas'. Menyambangi satu persatu lokasi dinas beliau sebagai seorang Perwira Angkatan Darat ABRI.

Napak Tilas berarti menapaki atau menyusuri kembali jalan yang pernah ditempuh seseorang.
Tak hanya untuk mengenang perjalanan serta perjuangannya, namun Napak Tilas memiliki makna lebih dalam yaitu ikut merasakan penderitaannya, mencontoh suri-tauladannya, atau bahkan menghidupkan kembali semangat yang dulu pernah ada.

Tak terkira kebahagiaan kami melihat Papa & Mama tersenyum bahagia dan bangga menunjukkan tempat tempat yang ia lalui. Tak terbayar oleh berapapun biaya, bagaimana kami turut merasakan semangat yang tumbuh kembali dalam dada mereka.

Rasa terima kasih tak terkira pun kami ucapkan pada mereka, yang dapat memberikan tauladan kepada kami untuk senantiasa menularkan semangat pada anak cucu kami kelak.

I love you Mom & Dad.




Batalyon Zipur Kepanjen, Malang Jawa Timur
Markas Batalyon yang dulu adalah Kompi disaat beliau menjadi Danki



 Balikpapan. Lokasi rumah yang telah menjadi Taman
 
 
Palembang. Karir beliau sebagai Pangdam II Sriwijaya


 Rumah Dinas Danrem Wirabraja Bukittinggi

 
 Danau Singkarak & Maninjau, tempat rekreasi favorit masa kecil
 
 
Berbagi suka, duka, cerita, dan semangat kepada generasi berikutnya 







Sunday, August 31, 2014

The Nation that doesnt Create, will only Consume



Baru minggu lalu, disaat kami sekeluarga melalui toll Jakarta-Tangerang, billboard Ikea sebuah hipermarket furniture raksasa asal swedia berdiri megahnya di kiri jalan toll.
“Asyiik... Ikea dah mau buka, nanti kita main kesana ya Pa..” lonjak Sekar anak bungsuku berteriak kegirangan. Selain karena hotdognya yang lezat, ada saja barang dekorasi dan keperluan rumah tangga dengan desain cantik yang menggoda karena murahnya.
Iya iya.. senyum kecutku, antara senang dan khawatir akan keberadaan serdadu baru di tanah air kita ini.
Bagaimana tidak, satu set tempat tidur untuk kamar anak dengan desain yang cantik dapat kuterka bakal dibandrol tak lebih dari 5juta. Iya, memang menguntungkan buat kita konsumen yang senantiasa hunting barang bagus dan murah, namun gimana nasib pak Sulin langganan tukang kayuku yg tak mampu menyelesaikan pekerjaan itu dalam 5-6 hari dengan harga bahan dan ongkos yang bersaing. Hampir dipastikan anaknya bakal tak dapat ikut karya wisata lagi tahun ini, karena iuran yg tak mampu ditebusnya.

Ya, saat yang dikawatirkan itu telah tiba. Negara ini telah memanen buah dari ke egoisan para elite yang memikirkan udelnya nya sendiri. Alih-alih mendorong bangsa ini untuk berkreasi dan bertarung dengan negara lain, terbuai kita dalam segala penundaan untuk mencipta sesuatu dengan daya saing tinggi. Alhasil, beribu serdadu ekonomi menyerang dan bersaing mengambil jatah kue di pasar bernama Indonesia. Tak hanya produk berteknologi tinggi yang masuk memenuhi kebutuhan kita, sandal, kopiah, sampai mie bakso pun tak tanggung tanggung turut menyikut pedagang lokal.
Gimana sekolah musik lokal gak kelabakan mencari murid, jika Yamaha raksasa alat musik jepang itu membuat sekolah musik hanya sekedar pelengkap bisnis utamanya dalam menjual alat musik. Digeber fasilitas mewah dengan uang kursus bulanan super murah pun mereka gak merasa rugi. Hehe... habis lah daya saing kita. Disaat duku harus melawan duren, gak bakal imbang pertandingannya.


Tergugah saya melihat grafik yang di share oleh Mas Handry Satriago CEO General Electric di Indonesia. Bahwa untuk perkara 'Inovasi',  Indonesia masih duduk di peringkat 25 di dunia. Top 3 dunia mudah ditebak US, Germany, dan Japan. Yang menarik lagi, saya baru tau jika pendorong inovasi terbesar di indonesia adalah UKM, StartUps, dan Individuals. Dalam hal ini termasuk mahasiswa.
Cukup melegakan mengetahui bahwa sekelompok pelajar dan usahawan muda cukup sadar dan berperan aktif dalam mendorong inovasi di indonesia. Namun pandangan pribadi saya menilai agak berbeda. Bagaimana besar efektifitas mereka dalam mendorong dan merubah haluan kapal tanker besar berbendera merah putih ini memasuki gelanggang yang tepat dan kecepatan berlayar yang cukup tinggi dalam mengejar posisi 5 besar dunia.


Jika memang kita harus keluar dari sekedar negara 'Consumes' menjadi negara 'Creates', diperlukan revolusi "Mental Engineering' yang 'terstruktur, sistematis dan masif' di seluruh generasi penerus bangsa (meminjam istilah Pak Prabowo nih..).
Mereka harus dirangsang, didorong, dipecut, tapi juga dihargai setinggi tingginya agar mau berlomba lomba untuk berfikir, berkreasi, dan mencipta inovasi-inovasi baru.
Engineering dalam hal ini hukan berarti melulu perkara teknologi yah. Tapi seluruh sektor. Dari tidak ada menjadi ada, dari lambat menjadi cepat, lemah menjadi kuat, gembrot menjadi ramping,  dan lain sebagainya.
Kecepatan mengurus KTP hilang dari 2 hari menjadi 20 menit adalah suatu inovasi efisiensi yang luar biasa menurut saya.

Bagaimana membangun "Mental Engineering" bangsa ini mampu berjalan cepat jika, pelaku bisnis kecil dan menengah serta mahasiswa yang hanya melakukannya.
Revolusi membutuhkan momentum yang lebih besar dari itu. Lingkungan sosial terkecil keluarga, sekolah, serta komunitas masyarakat, sebagai pelaku. Pemerintah dan perusahaan-perusahaan raksasa sebagai mesin pendorong dan fasilitatornya. Itu baru mantab dan nendang.


Kita melulu menyalahkan pemimpin dalam segala ketertinggalan kita dibanding negara lain, lalu duduk berdiam diri tak melakukan apa-apa. Ya, itu terjadi juga.
Namun disaat segelintir Individuals dan UKM telah unjuk diri untuk melakukan perannya, siapa lagi yang punya kekuatan untuk me "Leverage" dan membuatnya menjadi gerakan semesta? Tetap pemerintah dan pemimpin. Mereka harus jeli melihat sesuatu yang positif dan mengembankannya, mereka juga harus teliti melihat potensi perpecahan, mengarungi serta menembak di tempat.
Sebagai pemimpin, Itu aturan permainannya. Kalo bernafsu menjadi petinju tapi gak pernah mau ditinju, yaah... ke laut aja deh.

Negara didepan persimpangan jalan. Apakah kita mau menjadi negara Inovasi, meng'create' sesuatu, dan ramai-ramai tawuran menyerang dunia?
Ataukah kita senang menjadi anak gemuk manja yang gak bisa berdiri karena dijejali berbagai kue, permen, dan manisan, sebagai negara konsumsi yang tetap tak sadar dompet menipis dan mengering tinggal digoreng jadi kerupuk kulit, pait, mambu, dipangan ora enak... hosh hosh.. tarik napas.

Monggo Pak Supir, kendali di tangan anda.

Friday, July 18, 2014

Survival Of The Fittest



Dunia ini tak seramah dulu. Resep keberhasilan kemarin tak lagi mampu menjadi strategi keberhasilan mendatang. Keahlian yang anda miliki saat ini, terkadang tak cukup hanya untuk sekedar bertahan. Hukum 'Survival of the Fittest' berlaku. Bukan hanya yang terkuat yang dapat unggul , bukan hanya yang terpintar yang selalu menang, melainkan hanya mereka yang mampu 'Fit In' dan menyesuaikan diri dengan perubahan lah yang akan selamat.



Pada jaman Prehistoric, hanya mereka yang terkuat yang berkuasa. Mendiami gua-gua strategis, kemampuan berburu yang handal, dan memiliki kelompok yang saling melindungi.
Di era Agraris hukum itu mulai bergeser. Hanya mereka yang mampu mengolah lahan, yang mendapat jaminan kehidupan dan tak kekurangan pangan. Para pemburu rela menukarkan daging dan bulu-bulu pelindung musim dingin demi seikat gandum dan jagung. Para petani yang berkuasa pada era nya.
Jaman pun berubah setelah revolusi industri. Peradaban manusia perlahan berubah bentuk. Industri agraria telah memasuki era mekanisasi dan tuntutan manusia berkembang pada kebutuhan sekunder. Disaat ini para industrialis yang menguasai dunia. Mereka yang memiliki kemampuan untuk memproduksi produk secara massal, dapat memiliki segalanya. Dibutuhkan berkarung karung gandum untuk menukarkannya dengan sebuah kereta uap, pengganti kereta kuda.
Peranan uang dan emas sebagai media pengganti memicu pasar baru. Hal ini melahirkan cikal bakal wallstreet, dimana butuh usaha bersama untuk mengumpulkan modal dan mendanai industri.
Dunia pun kembali bermetamorfosa di era baru, era dimana penguasa informasi merajai dunia. Tak perlu memiliki pabrik dan kapital besar untuk jadi raja. Si pemilik informasi dimana demand dan supply dapat dijembatani menjadi pemenang. Mengetahui satu negara yang membutuhkan energi dan menjembatani negara lain yg memiliki minyak berlimpah membuat penjual tembakau onassis menjadi kaya raya.
Para pedagang penjelajah dunia pun berjaya melihat berbagai peluang yang dapat ditawarkan ke belahan dunia lain.
Perkembangan ini pun tak berlangsung lama. Di era masa kini, era informasi dimana google dan berbagai media sosial bertransformasi dalam hitungan detik, informasi tak lagi menjadi barang eksklusif.
Apapun yang anda butuhkan, dalam hitungan menit dapat anda temukan petunjuk bahkan lokasi pabriknya melalui internet.

Lantas kira kira kemana lagi arah dunia ini akan bergerak? Kesiapan apa lagi yang harus dituntut pada generasi berikut? Kualitas manusia apa yang mampu mengarungi jeram perubahan dan kompetisi yang semakin curam ini?
Cukup melegakan karena pada akhirnya kualitas tiap individu manusia tetap menjadi faktor utama yang menjamin kelanggengan keberhasilan.
Disaat informasi menjadi blak blak an, disaat agresifitas semakin membuat tak nyaman, kejujuran dan kepercayaan menjadi barang yang sangat langka. Di tataran ini kita bisa lega, tetapi bisa juga menjadi terlena jika tak mampu mewaspadainya. Disaat ego dan survival instink kita bekerja, aliran adrenalin kerap kali menekan syaraf-syaraf kebijaksanaan manusia. Inilah yang menjadi tantangan utama.

Ronngowarsito menggambarkan hal ini pada syairnya, 'Jamane jaman edan, sing ora melu edan ora keduman. Sak begja begjane wong edan isih menang wong Eling lan Waspodo'.
Pesan tua yang terkadang sering di cemooh dan diabaikan ini, sungguh tak boleh dipandang rendah. Didalamnya terkandung arti yang sangat dalam dan benar adanya. Bagai ayat suci, pesan ini dapat ditafsirkan ke berbagai bab dengan tafsir berbeda.
Dengan berbagai goda dan rencana, para elit penguasa dapat menjelma menjadi drakula. Dengan segala ketidak adilan dan penindasan, para petani dan nelayan lugu dapat berubah beringas dan menggila.
Dalam hal ini teman dan sahabat setia menjadi sangat langka. Mereka yang dapat melengkapi diri dengan segala 'survival kit' yang tepat, serta melepaskan segala topeng dan bungkus kebohongan dari dirinya justru akan menjadi sales apa adanya, direktur berkarakter mulia, rekan usaha yang dipercaya, serta pemimpin yang dicinta. 

The Fittest dan The Survivor bagi mereka, yang "Eling lan Waspodo".