Alkisah seorang 'Guru' bijaksana yang demikian terkenal dan kerap disambangi oleh berbondong orang dari pelosok negeri karena nasehat dan inspirasi yang diberikannya.
Pada suatu hari datanglah seorang sukses, kaya, dan sangat terkemuka menemui Guru tersebut.
Orang sukses ini memiliki hampir seluruh yang diinginkannya di dunia, kecuali sedikit relung kehampaan yang dirasakannya dewasa ini.
Setelah melalui berbagai usaha dan perjalanan berliku akhirnya duduklah dia di serambi rumah Sang Guru, menunggu beliau keluar dari biliknya.
Matanya menyapu seluruh ruang, memperhatikan setiap detil bertanya tanya dan mengagumi didalam hatinya. Bagaimana mungkin seseorang yang begitu terkenal akan kebijaksanaannya se antero negeri dapat hidup demikian sederhana.
Hanya empat kursi sederhana beserta meja, dan beberapa dekorasi lama yang terlihat dalam ruang tamu dan dinding rumah itu. Sebuah ranjang kayu tua terliat dari balik pintu sebuah kamar beserta lemari yang tak pula terlihat berukir sempurna.
Walaupun jauh dari kesan mewah, namun semua perabot rumah tersusun pada tempatnya, tertata rapi, bersih, serasi dan membawa aura yang sangat terasa menenangkan hati.
Lirih hembusan nafas orang kaya ini disaat merasakan suasana damai menyambut Sang Guru keluar dari ruang belakang rumahnya.
Dengan pakaian serba putih dan raut wajah tenang beliau menyambut tamunya dengan penuh persahabatan. Beberapa saat berlalu dengan obrolan pembukaan ringan, si kaya ini mulai berwajah serius ingin mencurahkan isi hatinya.
Tak kuasa ia memulai dengan satu pertanyaan, " Guru, saya merasakan kedamaian di rumah ini. Saya sangat kagum dengan Guru. Bagaimana Guru mencapai kedamaian dan kebahagiaan yang bisa saya rasakan ini? mohon maaf, sepintas saya memperhatikan kediaman Guru tak satu saya temui sebuah TV modern, perangkat elektronik, susunan buku yang berjajar, ataupun sekedar perabotan dan dekorasi rumah yang indah. Bagaimana Guru mencapai kedamaian dan kebahagian dunia ini?".
Sang Guru tersenyum dan membuka bibirnya. Bukan jawaban yang diberikan, melainkan pertanyaan lain yang terucap. "Anak muda, engkau terlihat demikian cerdas, terpelajar, sukses, dan tentunya memiliki banyak kegemaran. Dimana barang barang kegemaranmu, aku tak melihatnya?".
Orang kaya ini menjawab tersipu, " Terima kasih Guru, Alhamdulilah saya mampu memiliki banyak hal yang saya gemari dan impikan sejak kecil. Tentunya barang barang tersebut saya tinggal di rumah Guru. karena ukurannya yang besar besar, mobil pun saya tinggal di kaki bukit. Tak satupun saya bawa serta Guru, Saya hanya sedang dalam sebuah 'Perjalanan Singkat' ".
Sang Guru tersenyum dan menjawab "Anak Muda, bukankah kita semua ini hidup dalam sebuah 'Perjalanan Singkat'? "
Orang kaya tersebut terdiam dengan mata berkaca kaca, mendapatkan seluruh pelajaran hanya dalam satu kalimat pertama.
Labels
- ekonomi&pasar (1)
- inspirasi (8)
- manajemen (2)
- pendidikan (5)
- perjalanan (4)
- publikasi (28)
- renungan (11)
- seni & budaya (7)
Showing posts with label perjalanan. Show all posts
Showing posts with label perjalanan. Show all posts
Tuesday, August 7, 2018
Sunday, May 8, 2016
Ruang Berbagi Ilmu Polewali Mandar - Mei 2016
Akhirnya kita putuskan untuk melakukan perjalanan ke Polewali Mandar pada kesempatan mengikuti kegiatan Rubi Indonesia Mengajar semester pertama tahun 2016 ini.
Berbagai briefing dan persiapan dilakukan dibawah koordinasi Sonia jagoan kami dari tim panitia Indonesia Mengajar yang dibantu oleh May Ichi.
Semua demi menyiapkan perjalanan menuju Kota Kecil di pantai Barat Sulawesi itu.
Perjalanan ke Sulawesi merupakan kali pertama bagi beberapa dari kami selama hidupnya, temasuk bagi Kak Ella, demikian istriku dipanggil oleh relawan lainnya. Tak hanya itu, membawakan suatu materi workshop di depan Guru dan Kepala Sekolah, adalah pengalaman perdananya.
Berbekal tekad bulat untuk berbuat sesuatu demi pendidikan, kenekatannya akhirnya berhasil melampaui kekhawatirannya.
Walaupun pernah kusambangi bumi Sulawesi dalam beberapa perjalanan dinas, namun persiapan perjalanan kali ini terasa amat berbeda.
Persiapan beberapa materi untuk pelatihan Kepala Sekolah dan Guru, terasa tidak pernah sempurna.
"Sudahlah, kita jalani saja" tekad kami. Pengalaman dan sudut pandang berbeda yang akan kami ungkapkan mudah-mudahan cukup menambah wawasan bagi mereka.
Pelabuhan Udara Maros Kota Makassar merupakan persinggahan pertama bagi petualangan kecil kami. Pantai Losari tentunya menjadi tujuan utama bagi turis lokal yang baru menginjakkan kaki di bumi Makassar ini.
Hotel Quality menjadi pilihan kami untuk menginap di malam pertama, sembari menunggu kedatangan rombongan lain di keesokan hari. Selain lokasi yang persis didepan pantai utama Losari, hotel ini berlokasi di dekat jalan Somba Opu dimana beberapa toko sovenir berada.
Setelah berfoto di Pantai, deretan penjual Pisang Epe menjadi sasaran berikut kami.
Penganan sederhana ini ternyata enak juga, terutama pisang berbalut gula kelapa yang terasa begitu khas. jajanan baru yang tak pernah kami temui di warung roti bakar Eddy atau kedai pisang bakar lainnya di Jakarta.
Usai melahap pisang epe, deretan toko sovenir di Somba Opu kami coba sambangi. Toko cindera mata 'Indonesia' salah satu toko yang terlihat ramai oleh pengunjung.
Seru juga melihat berbagai kain tenun dan aneka asesoris,
Bingung memilih, akhirnya kami putuskan untuk membeli beberapa tenun Toraja untuk taplak dan Sajadah Sholat.
Malam belum terlalu larut, rasanya kurang afdol jika kami tak mencoba kuliner lainnya malam ini.
Sejenak kami lupakan program diet makan malam, akhirnya kami masuk ke sebuah warung Konro dan Sop Saudara, persis di samping Hotel tempat kami bermalam.
Pagi menjelang, dan kami bersiap untuk menjemput rombongan lain di Pelabuhan Udara. Kak Sonia, Kak Suwanto, dan Kak Deden akan mendarat pagi ini. Kak Dayat ternyata telah mendarat lebih awal pukul 02.00 dinihari, "terlalu semangat nih Dayat" ledek Ichi dalam grup whatsap kami.
Satu persatu seluruh anggota rombongan berdatangan, dan kami pun bersiap untuk melanjutkan perjalanan kami ke Kota Polewali Mandar.
Kota Pare Pare tanah kelahiran BJ Habibie Presiden ketiga Indonesia, adalah kota pertama yang akan kami sambangi. Tugu Cinta Habibie -Ainun yang menjadi ikon kota ini ternyata berlokasi di pusat keramaian kota.
Perjalanan kami lanjutkan melalui hamparan sawah, bukit dan sesekali terlihat pantai di sisi kiri kami. Suasana rumah dan alam yang berbeda dengan pulau jawa kerap kali membuat decak kagum.
Melewati beberapa Sekolah SMA Negeri membuat kami keder juga. Bagaimana tidak, bangunan yang cukup besar dan tanah yang luas bukanlah pemandangan umum untuk sebuah sekolah negeri di Jakarta.
Sebelum menyambangi meeting point, supir kami membelokkan kendaraan ke arah pantai, spot terpenting dan ikonik bagi Kota Polewali Mandar.
Hampir terlupa oleh waktu dengan sambutan pemandangan yang menyenangkan, akhirnya kami lanjut ke tempat pertemuan utama kami. Wisma yang disediakan oleh rekan panitia lokal tak jauh dari SMA 3 tempat acara Rubi dilaksanakan.
Walaupun melalui perjalanan yang cukup lelah, malam itu kami manfaatkan semaksimal mungkin untuk persiapan keesokan hari.
Ditemani pisang goreng yag dicocol sambal, perkenalan singkat kami dengan relawan lokal langsung membuat kami sangat akrab.
Sambutan oleh Kak Qadri di sore tadi. diikuti oleh perkenalan relawan yang satu persatu datang. Sofyan, Miny, Martina, Anto, Aul, Alam, Fajar, Hendra, Hery, Wahyu, Ramli, Wawan, Anti, dll.. sepertinya masih beberapa nama yang tertinggal olehku.
Pagi kami dimulai oleh sarapan khas yang dibawa oleh rekan panitia lokal. Lontong buras, telur dan ayam serta tak lupa sambal. Tanpa basa-basi hidangan tersebut ludas kami makan berebutan.
Jarak yang tidak begitu jauh menuju lokasi acara kami jalani dengan berjalan kaki dengan semangat menggebu dinaungi langit yang cerah. Sambutan tarian selamat datang dari siswi SMA serta deretan peserta workshop yang telah menunggu, menambah semangat dan kebanggaan kami telah turut serta dalam kegiatan ini.
Kak Deden mengawali workshop dengan materi MBK Berbasis Lingkungan. Disusul oleh Kak Suwanto dan Kak Ella. Serta workshop MBK yang dibimbing oleh Kak Sofyan.
Acara hari ini diakahiri oleh banyak komen positif dalam Flipchart Refleksi. Kami pun dapat bernafas lega.
Malam tiba, Bu Hikmah ibunya anak-anak, koordinator lokal kita yang juga merupakan Kepala Amdal BLH Polman, menjamu kami untuk makan malam bersama di sebuah restoran Ikan Bakar.
Suatu jamuan Dahsyat dengan rasa ikan yang tak bisa saya lupakan sampai detik saya menulis blog ini.
Komplit lah petualangan kami hari ini, kami pun bergegas pulang untuk menyiapkan acara hari kedua di keesokan hari.
Materi yang akan disiapkan di hari kedua tak sepadat kemarin. Kak Adnan akan membawakan Materi Keuangan, diikuti oleh sharing session dari Kepala Sekolah SMAN3, sedangkan materi pungkasan akan kubawakan sendiri.
Hari kedua berjalan tak kalah mulus, para peserta semakin antusias dengan berbagai workshop dan kegiatan yang kami bawakan selama dua hari ini.
Tibalah kami pada akhir acara, yang ditutup oleh penempelan berbagai refleksi pada pohon harapan.
Seluruh persiapan yang dilakukan oleh Panitia Lokal menjadi kunci kesuksesan acara ini.
Peran bu Hikmah dalam mendorong relawan muda serta meyakinkan seluruh pihak untuk mendukung acara ini tak bisa dianggap enteng.
Persiapan tempat, undangan, penyusunan term of references, pendaftaran, pencatatan peserta, dokumentasi dan banyak hal lain menjadikan acara ini tak hanya sekedar perhelatan workshop pendidikan semata.
Kerja keras, saling pengertian dan gotong royong serta keikhlasan setiap individu telah merubah pertemanan menjadi persaudaraan.
Disaat niat baik bertemu niat baik, sebuah kegiatan sederhana dapat berubah menjadi momentum bola salju yag akan bergulir tak terhentikan.
Pengalaman selama 4 hari di Polman ini mengubah perjalanan biasa menjadi momen pengalaman hidup bagi kami yang mengalaminya. Persaudaraan yang dibina diharapkan akan terus berkembang untuk menemukan niat niat baik lainnya.
Semoga sedikit peluh dan sumbang pemikiran ini dapat menjadi kontribusi demi Jayanya Indonesia,
lihat video:
https://www.youtube.com/watch?v=UzPAcfc7XcI
Ruang Berbagi Ilmu - Pulau Rupat Bengkalis, Nov 2015
Melihat Promosi acara Rubi disaat menghadiri undangan Relawan Indonesia Mengajar, membuatku tertarik untuk mengambil brosur mengisi daftar nama dan mempelajarinya lebih dalam.
Ruang Berbagi Ilmu, sebuah workshop dengan target peserta Guru dan Kepala Sekolah.
Wah, kesempatan ini sangatlah penting untuk ku pertimbangkan. Berbeda dengan Kelas Inspirasi dimana relawan berbagi pengalaman akan profesi yang dijalaninya, Rubi jauh lebih relevan sesuai kapasitasku.
Kesempatan untuk berbagi pandangan dan pengalaman akan kondisi dunia usaha yang kujalani sehari hari kurasa akan dapat memberikan masukan banyak untuk mereka.
Pulau Rupat kabupaten Bengkalis menjadi pilihanku pada kesempatan perdana ini. Lokasinya yang berseberangan dengan negara tetangga Malaysia menambah rasa ingin tahuku akan apa yang terjadi disana.
Persiapan dan beberapa pertemuan kuikuti, dari gedung PWC kuningan sampai markas IM di Jl Galuh. Terkejut juga menyadari bahwa tak satupun dari kami paham betul akan materi yang akan kami bawakan.
Menyadari bahan materi yang cukup banyak dan kompleks, level setres kami mulai meningkat.
Setelah melalui beberapa diskusi dengan relawan daerah penugasan lain, kepingan puzzle mulai terbentuk dan kami mulai fokus menyelesaikan materi presentasi masing masing.
Akhirnya hari penting itu tiba. Aku berangkat menuju pekanbaru bersama rombongan dari Jakarta. May Ichi dan Thika sebagai koordinator, diikuti narasumber lain Mbak Diah, Wina, Kalyn, Aidil, Dian dan Nisa. Serta Sri yang baru bergabung dari Pekanbaru.
Perjalanan dimulai dari sarapan pagi Ketupat Sayur khas pekanbaru, sebelum kami menuju Duri.
Sarapan di warung kopi itu diwarnai percakapan singkat dengan seorang kakek bersuku sakai dengan bahasa daerahnya yang sangat khas.
Perjalanan menuju Duri memakan waktu kurang lebih 6 jam. Sesampai disana, kami menyambangi sekolah bu Yosie salah seorang narasumber dari Duri yang juga seorang Kepala Sekolah disana.
Perjalanan ke Pulau Rupat ditempuh melalui Feri penyeberangan dari kota Dumai. Dengan perlengkapan training yang kami bawa, rasanya cukup heboh juga perjalanan yang kami tempuh ini.
Sesampai di Pulau Rupat, kami disambut oleh Ruri Pengajar Muda yang telah bertugas selama setahun di Rupat, ditemani oleh pak Gopar seorang Kepala Sekolah SD yang bertempat tinggal di sana.
Disambut dengan hangat oleh Panitia Lokal dengan suguhan Ikan Debuk, menghilangkan kecanggungan dan rasa malu malu kami.
Mengikuti pengaturan penginapan oleh Panitia Lokal, aku berkesempatan untuk menginap di kediaman Pak Gopar. Sebuah rumah yang cukup modern bila dibanding dengan rumah panggung penduduk asli yang kebanyakan berdinding kayu.
Sesi pagi dimulai di keesokan hari oleh beberapa sambutan pejabat setempat. Mengingat aku adalah peserta yang cukup senior dibanding yang lain, membuatku didaulat untuk membawakan sambutan perkenalan.
Menyadari budaya berpantun di daerah Riau, aku mencuri kesempatan untuk googling pantun sederhana didalam sambutanku. Tak ayal para peserta tertawa mendengar pantunku yang lumayan pas-pas an.
Materi pertama adalah Motivasi Pendidik yang kubawakan bersama Bu Diah yang dipanggil mbak Okke, dan dilanjutkan materi Manajemen Berbasis Sekolah, dan Taman Baca.
Pada hari kedua, materi yang kami bawakan adalah Brain Based Technique, Quantum Teaching, Multiple Inteligence, Leadership dan Metode Belajar Kreatif.
SMS singkat dari perusahaan penerbangan cukup membuat kami gusar. Bagaimana tidak, jadwal pesawat yang sedianya baru berjalan malam, dirubah sepihak menjadi lebih awal di siang hari.
Rencana untuk menghabiskan malam sehari lagi akhirnya batal dan mengharuskan beberapa dari kami untuk pulang lebih awal.
Pelatihan berlanjut di hari ke tiga dan empat, namun sebagian dari kami terpaksa harus meninggalkan pulau Rupat untuk mengejar pesawat kami.
Pengalaman berinteraksi selama dua hari di Rupat cukup membawa perubahan bagiku. Pembangunan yang sebagian besar berpusat di Jawa terasa betul kepincangannya.
Indonesia tak hanya Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan. Kota dan Provinsi lainnya adalah potret mayoritas perekonomian Indonesia.
Indonesia tengah berfokus untuk memperbaiki berbagai sarana dan prasarana infrastruktur. Tak kalah penting, soft infrastruktur haruslah senantiasa menjadi fokus utama kita. Kesehatan dan Pendidikan.
Pemerintah takkan mampu untuk melakukan perbaikan menyeluruh dengan segala keterbatasannya. Kerja sama dan gotong royong seluruh Insan masyarakat sangatlah diperlukan.
Kerap aku tersenyum membaca berbagai celoteh protes banyak teman di media sosial menyerang pemerintah maupun sekedar meluapkan kekesalan mereka akan berjuta kekurangan negeri ini. Tak sadar kah mereka sebetulnya kita pun mampu berbuat sesuatu untuk memperbaikinya dengan sebuah aksi nyata.
Nampak klise dan tak nyata? Tidak juga.
Kubuktikan sendiri dari perbincangan dan reaksi beberapa peserta disana yang berterima kasih dan sedikit banyak terbakar oleh sedikit pesan yang kami sampaikan.
Jika hal hal kecil ini kita lakukan bersama, rasanya tak mustahil Negara tercinta kita ini akan ber 'tiwikrama' menjadi raksasa yang ditakuti di dunia. Semoga,
Salam Pendidikan
Lihat video:
https://www.youtube.com/watch?v=gwE1N29WVqk
Ruang Berbagi Ilmu, sebuah workshop dengan target peserta Guru dan Kepala Sekolah.
Wah, kesempatan ini sangatlah penting untuk ku pertimbangkan. Berbeda dengan Kelas Inspirasi dimana relawan berbagi pengalaman akan profesi yang dijalaninya, Rubi jauh lebih relevan sesuai kapasitasku.
Kesempatan untuk berbagi pandangan dan pengalaman akan kondisi dunia usaha yang kujalani sehari hari kurasa akan dapat memberikan masukan banyak untuk mereka.
Pulau Rupat kabupaten Bengkalis menjadi pilihanku pada kesempatan perdana ini. Lokasinya yang berseberangan dengan negara tetangga Malaysia menambah rasa ingin tahuku akan apa yang terjadi disana.
Persiapan dan beberapa pertemuan kuikuti, dari gedung PWC kuningan sampai markas IM di Jl Galuh. Terkejut juga menyadari bahwa tak satupun dari kami paham betul akan materi yang akan kami bawakan.
Menyadari bahan materi yang cukup banyak dan kompleks, level setres kami mulai meningkat.
Setelah melalui beberapa diskusi dengan relawan daerah penugasan lain, kepingan puzzle mulai terbentuk dan kami mulai fokus menyelesaikan materi presentasi masing masing.
Akhirnya hari penting itu tiba. Aku berangkat menuju pekanbaru bersama rombongan dari Jakarta. May Ichi dan Thika sebagai koordinator, diikuti narasumber lain Mbak Diah, Wina, Kalyn, Aidil, Dian dan Nisa. Serta Sri yang baru bergabung dari Pekanbaru.
Perjalanan dimulai dari sarapan pagi Ketupat Sayur khas pekanbaru, sebelum kami menuju Duri.
Sarapan di warung kopi itu diwarnai percakapan singkat dengan seorang kakek bersuku sakai dengan bahasa daerahnya yang sangat khas.
Perjalanan menuju Duri memakan waktu kurang lebih 6 jam. Sesampai disana, kami menyambangi sekolah bu Yosie salah seorang narasumber dari Duri yang juga seorang Kepala Sekolah disana.
Perjalanan ke Pulau Rupat ditempuh melalui Feri penyeberangan dari kota Dumai. Dengan perlengkapan training yang kami bawa, rasanya cukup heboh juga perjalanan yang kami tempuh ini.
Mengikuti pengaturan penginapan oleh Panitia Lokal, aku berkesempatan untuk menginap di kediaman Pak Gopar. Sebuah rumah yang cukup modern bila dibanding dengan rumah panggung penduduk asli yang kebanyakan berdinding kayu.
Sesi pagi dimulai di keesokan hari oleh beberapa sambutan pejabat setempat. Mengingat aku adalah peserta yang cukup senior dibanding yang lain, membuatku didaulat untuk membawakan sambutan perkenalan.
Menyadari budaya berpantun di daerah Riau, aku mencuri kesempatan untuk googling pantun sederhana didalam sambutanku. Tak ayal para peserta tertawa mendengar pantunku yang lumayan pas-pas an.
Materi pertama adalah Motivasi Pendidik yang kubawakan bersama Bu Diah yang dipanggil mbak Okke, dan dilanjutkan materi Manajemen Berbasis Sekolah, dan Taman Baca.
Pada hari kedua, materi yang kami bawakan adalah Brain Based Technique, Quantum Teaching, Multiple Inteligence, Leadership dan Metode Belajar Kreatif.
Rencana untuk menghabiskan malam sehari lagi akhirnya batal dan mengharuskan beberapa dari kami untuk pulang lebih awal.
Pelatihan berlanjut di hari ke tiga dan empat, namun sebagian dari kami terpaksa harus meninggalkan pulau Rupat untuk mengejar pesawat kami.
Pengalaman berinteraksi selama dua hari di Rupat cukup membawa perubahan bagiku. Pembangunan yang sebagian besar berpusat di Jawa terasa betul kepincangannya.
Indonesia tak hanya Jakarta, Bandung, Surabaya dan Medan. Kota dan Provinsi lainnya adalah potret mayoritas perekonomian Indonesia.
Indonesia tengah berfokus untuk memperbaiki berbagai sarana dan prasarana infrastruktur. Tak kalah penting, soft infrastruktur haruslah senantiasa menjadi fokus utama kita. Kesehatan dan Pendidikan.
Pemerintah takkan mampu untuk melakukan perbaikan menyeluruh dengan segala keterbatasannya. Kerja sama dan gotong royong seluruh Insan masyarakat sangatlah diperlukan.
Kerap aku tersenyum membaca berbagai celoteh protes banyak teman di media sosial menyerang pemerintah maupun sekedar meluapkan kekesalan mereka akan berjuta kekurangan negeri ini. Tak sadar kah mereka sebetulnya kita pun mampu berbuat sesuatu untuk memperbaikinya dengan sebuah aksi nyata.
Nampak klise dan tak nyata? Tidak juga.
Kubuktikan sendiri dari perbincangan dan reaksi beberapa peserta disana yang berterima kasih dan sedikit banyak terbakar oleh sedikit pesan yang kami sampaikan.
Jika hal hal kecil ini kita lakukan bersama, rasanya tak mustahil Negara tercinta kita ini akan ber 'tiwikrama' menjadi raksasa yang ditakuti di dunia. Semoga,
Salam Pendidikan
Lihat video:
https://www.youtube.com/watch?v=gwE1N29WVqk
Subscribe to:
Posts (Atom)






